26 March 2014

Filsafat Pendidikan

FILSAFAT PENDIDIKAN
PENGERTIAN FILSAFAT PANCASILA DAN PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT HIDUP BANGSA





Oleh :
Desy Anjani Priastika           (13010034074)
Ika Elviana                            (13010034081)
Rossy Arrahman                   (13010034020)
Muh. Zainul Mifta                (13010034083)

PLS 2013 B
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014


KATA  PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, kami mahasiswa PLS ( pendidikan luar sekolah ) angkatan 2013 dapat menyelesaikan makalah dengan tepat pada waktunya. Tugas ini diajukan untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan. Makalah ini membahas tentang “Pengertian Filsafat Pancasila dan Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik isi maupun penyajian dalam kumpulan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi perbaikan penyusunan tugas selanjutnya. Sekecil apapun manfaat yang tersaring dalam makalah ini, kami harap dapat menambah wawasan baru dalam studi Filsafat Pendidikan.








Surabaya, 24 Maret 2014


Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................        i   
DAFTAR ISI................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................        iii
A.    Latar Belakang ..................................................................................        iii
B.    Rumusan Masalah...............................................................................        iii
C.    Tujuan Penulisan ................................................................................        iii
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................        1
A.      Pancasila Sebagai  Filsafat  Hidup Bangsa Indonesia .......................        1
1.    Ontologi ........................................................................................        2
2.    Epistemologi .................................................................................        2
3.    Aksiologi .......................................................................................        3
B.       Pengertian Filsafat Pancasila .............................................................        3
BAB III PENUTUP ....................................................................................        5
A.      Kesimpulan ........................................................................................        5
DAFTAR PUSTAKA















BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pancasila juga merupakan filsafat hidup bangsa Indonesia selain fungsi utamanya sebagai dasar negara. Sejarah telah mengungkapkan bahwa pancasila adalah jiwa dari seluruh bangsa Indonesia yang mampu memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Pancasila yang diterima dan ditetapkan sabagai dasar Negara seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa serta mampu menjadi sebagai pedoman untuk melaksanakan pendidikan nasional. Pembelajaran pancasila menjadi sangat penting, karena mengingat pancasila merupakan jiwa dari seluruh rakyat Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa di dalam pancasila mengandung jiwa yang luhur, nilai-nilai yang luhur dan sarat dengan ajaran moralitas.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka penulis merumuskan masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1.           Bagaimana pengertian Filsafat Pancasila ?
2.           Bagaimana pengertian Pancasila sebagai Filsafat Hidup Bangsa ?
C.      Tujuan Penulisan
Penulisan Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1.           Untuk mengetahui pengertian Filsafat Pancasila
2.           Untuk mengetahui hakikat Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa.





BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa
Secara etimologis istilah “Filsafat” atau bahasa Inggrisnya disebut philosophi” berasal dari bahasa Yunani “philien” (cinta) dan “sophos” (hikmah/kearifan) atau bisa juga diartikan “cinta kebijaksanaan”.
Pancasila adalah jiwa dan seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan bangsa Indonesia dan dasar negara. Di samping menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia, pancasila juga merupakan kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia akan mencapai puncak kebahagian jika dapat dikembangkan keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dalam mengejar hubungan dengan masyarakat, alam, Tuhannya maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.
Pancasila adalah dasar Filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam UUD 1945, dan diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama dengan UUD 1945.
Pancasila ini sendiri digali dan ditemukan untuk dijadikan dasar negara. Sejarah penggalian dasar negara secara formal dilakukan dalam sidang BPUKI yang diselenggarakan mulai tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Pada sidang tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno sebagai salah seorang penggali dan pengusul dasar negara mengatakan bahwa dasar negara harus digali dai bumi Ibu pertiwi dan terlebih dulu harus dicari apa yang menjadi filsafat bangsa.
Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia adalah sebuah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya menjadi negara yang sejahtera (Wellfare State).
Oleh karena itu, kita perlu memahami, mengahayati dan mengamalkan pancasila dalam segi kehidupan. Tanpa upaya itu, Pancasila hanya akan menjadi rangkaian kata-kata yang indah dan serta tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa kita. Pancasila yang dimaksud disini adalah pancasila yang dirumuskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang terdiri dari 5 sila dan penjabarannya tidak dapat dipahmi secara terpisah melainkan satu kesatuan. Sangatlah wajar jika pancasila dikatakan sebagai filsafat hidup bangsa karena :
1.             Kesadaran ketuhanan dan kesadaran keagamaan secara sederhana.
2.        Kesadaran kekeluargaan, dimana cinta dan keluarga sebagai dasar dan
     kodrat terbentuknya masyarakat dan sinambungnya generasi.
3.        Kesadaran musyawarah mufakat dalam menetapkan kehendak bersama.
4.        Kesadaran gotong royong, tolong menolong.
5.    Kesadaran tenggang rasa, sebagai semangat kekeluargaan dan kebersamaan, hormat dan memelihara kesatuan, saling pengertian demi keutuhan, kerukunan dan kekeluargaan dalam kebersamaan.
Itulah yang terkandung dalam Pancasila dengan 36 butir-butirnya. Dengan begitu, pada dasarnya Indonesia telah melaksanakan Pancasila, walaupun sifatnya masih merupakan kebudayaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut sudah berabad-abad lamanya mengakar pada kehidupan bangsa indonesia, karena itu pancasila dijadikan sebagai falsafah hidup bangsa.
Bahwa Pancasila merupakan filsafat yang dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya tiga syarat formal kriteria Filsafat, yaitu Pancasila memiliki ontologi, epistemologi, maupun aksiologi.
1.        Ontologi
Ontologinya pancasila antara lain dijelaskan bahwa tiap sila pancasila memiliki hakiki atau esensi, yaitu sila pertama hakikinya pengakuan adanya Tuhan yang satu, sila kedua pengakuan dan perlakuan terhadap manusia secara adil dan menempatkan manusia Indonesia sebagai manusia yang beradab. Sila ketiga intinya suatu pengakuan bahwa meskipun bangsa dan wilayah Indonesia terdiri dari banyak suku, bahasa, adat istiadat, dan terdiri dari banyak pulau, tetapi pada hakikatnya tetap satu, dan tidak terpisah-pisah. Sila keempat hakiktnya kekuasaan ada pada rakyat, demokrasi yang berlandaskan kebijaksanaan dan dilaksanakan secara musyawarah. Sila kelima hakikatnya bangsa Indonesia memiliki rasa keadilan dalam arti setiap orang mempunyai hak yang sama dalam segala aspek kehidupan, meskipun tidak berarti semuanya sama. Adil dalam pancasila berarti tiap warga negara berhak mendapatkan sesuatu secara proporsional.
2.        Epistemologi
Bahwa pancasila merupakan kebenaran abstrak sekaligus mempunyai kebenaran konkret. Kebenaran abstrak terletak padaaa hakikat atau esensi atau inti tiap sila maupun pancasila sebagai suatu kesatuan, yaitu seperti yang sudah  dibahas pada segi ontologi. Sedangkan kebenaran konkretnya dapat dibuktikan dengan adanya kenyataan, bahwa pancasila secara nyata telah mewarnai kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman purba. Kebenaran pancasila juga kebenaran universal.
3.        Aksiologi
Bahwa pancasila merupakan nilai atau norma yang dapat diterapkan seecara normatif menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia. Pancasila diterapkan secara normatif dalam arti pancasila harus dipakai sebagai kendali perilaku bangsa dan bukannya pancasila dapat diubah-ubah sesuai tuntuttan zaman. Perlu diingat bahwa pancasila ini memang luwes, yang artinya selalu cocok untuk berbagai situasi, tetapi yang luwes adalah penerapannya.
B.       Pengertian Filsafat Pancasila
Pancasila yang dibahas secara filosofis disini adalah Pancasila yang butir-butirnya termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang tertulis dalam alinia ke empat. Dijelaskan bahwa Negara Indonesia didasarkan atas Pancasila. Pernyataan tersebut menegaskan hubungan yang erat antara eksistensi negara Indonesia dengan Pancasila. Lahir, tumbuh dan berkembangnya negara Indonesia ditumpukan pada Pancasila sebagai dasarnya. Secara filosofis ini dapat diinterpretasikan sebagai pernyataan mengenai kedudukan Pancasila sebagai jati diri bangsa.
Melihat dari beragamnya  kebudayaan yang terdapat dalam bangsa Indonesia maka proses kesinambungan dari kehidupan bangsa merupakan tantangan yang besar. Demi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya dituntut adanya rumusan yang jelas yang mampu  berperan sebagai pemersatu bangsa sehingga cirri khas bangsa Indonesia menjadi nyata.
Jadi, Pancasila mengarahkan seluruh kehidupan bersama bangsa, pergaulannya dengan bangsa-bangsa lain dan seluruh perkembangan bangsa Indonesia dari waktu kewaktu. Namun dengan diangkatnya Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak berati bahwa Pancasila dengan nilai-nilai yang termuat didalamnya sudah terumus dengan teliti dan jelas, juga tidak berarti pancasila telah merupakan kenyataan didalm kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila adalah pernyataan tentang jati diri bangsa Indonesia.
Filsafat Pancasila dapat diartikan sebagai hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Pancasila pada hakikatnya juga memiliki arti sebagai perwujudan nilai nilai luhur bangsa Indonesia sepanjang sejarah, dan merupakan penggabungan antara unsur unsur- budaya luar yang sesuai dengan budaya Indonesia sehingga keseluruhannya terpadu menjadi sebuah Ideologi yang bernama Pancasila. Pandangan tersebut akhirnya di yakini loeh bangsa Indonesia dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan dari gagasan itulah dapat diketahui akan cita- cita yang ingin di capai oleh bangsa dan Negara Indonesia.





BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPILAN
     Dari Penjelasan diatas dapat kami simpulkan bahwa pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia merupakan suatu yang sudah mutlak dan tidak boleh dirubah karena Pancasila adalah jiwa dan seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan bangsa Indonesia dan dasar negara. Di samping menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia, pancasila juga merupakan kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia akan mencapai puncak kebahagian jika dapat dikembangkan keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dalam mengejar hubungan dengan masyarakat, alam, Tuhannya maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah. Dan fungsi fungsi Pancasila telah terbukti mampu mempersatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perpecahan.

















DAFTAR PUSTAKA

Soegiono, Tamsil Muis. 2012. Filsafat Pendidikan : Teori dan Praktik, Surabaya, PT Remaja Rosdakarya.

24 February 2014

Filsafat Pendidikan

Nama              : Mohammad Zainul MIfta
Nim                 : 13010034083

A.       PENGERTIAN FILSAFAT
Banyak pendapat tentang filsafat, beberapa yang berpresi terhadap Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagisegala sesuatu berdasarkan pikiran/ rasio belaka. Filsafat berasal dari Griek berasal dari kata Pilos (cinta), Sophos (kebijaksanaan), tahu dengan mendalam, hikmah
Kata filsafat berasal dari kata ‘philosophia’ (bahasa Yunani),  yang artinya ‘mencintai kebijaksanaan’. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah ‘philosophy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’, yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’.
Istilah philosophia memiliki akar kata philien yang berarti mencintai  dan sophos yang berarti bijaksana. Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Sedangkan orang yang berusaha mencari kebijaksanaan atau pencinta pengetahuan disebut dengan filsuf atau filosof.
Proses mencari kebenaran itu melalui beberapa tahap. Tahap pertama, manusia berspekulasi dengan pemikirannya tentang semua hal. Kedua, dari berbagai spekulasi disaring menjadi beberapa buah pikiran yang dapat diandalkan.  Tahap ketiga, buah pikiran tadi menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, hukum, politik, dan lain-lain.
Berikut definisi filsafat yang dikemukakan para ahli:
1.         Pythagoras (572-497 M). Dalam tradisi filsafat zaman Yunani Kuno, Pythagoras adalah orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah philosophia, yang kemudian dikenal dengan istilah filsafat. Pythagoras memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdon. Menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud dengan wisdom  adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Pythagoras sendiri menggap kebijakan yang sesungguhnya hanya dimiliki Tuhan semata-mata.
2.         Socrates (469-399 SM).  Ia adalah seorang filosof dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada zaman Yunani Kuno. Socrates memahami bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life).
3.         Plato (427-347 SM). Seorang sahabat dan murid Socrates ini telah mengubah pengertian kearifan (sophia) yang semula berkaitan dengan soal-soal praktis dalam kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Dalam Republika, Plato menegaskan bahwa para filosof adalah pecinta pandangan tentang kebenaran (vision of the truth). Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, filosof yang dapat menemukan dan menangkap penegtahuan mengenai ide yang abadi dan tak pernah berubah. Dalam konsepsi Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat speklutaif atau perekaan terhadap keseluruhan kebenaran. Maka filsafat Plato kemudian dikenal dengan nama Filsafat Spekulatif.
4.         Aristoteles (384-332 SM). Aristoteles adalah seorang murid Plato yang terkemuka. Dalam pandangannya, seringkali Aristoteles bersebrangan dengan pendapat gurunya, namun pada prinsipnya, Aristoteles mengembalikan paham-paham yang dikemukakan oleh gurunya tersebut. Berkenaan dengan pengertian filsafat, Aristoteles mengemukakan bahwa sophia (kearifan) merupakan kebajikan intelektual tertinggi. Sedangkan philosophia merupakan padanan kata dari episteme dalam arti suatu kumpulan teratur pengetahuan rasional mengenai sesuatu objek yang sesuai. Adapun pengertian filsafat menurut Aristoteles, adalah ilmupengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.
5.         Prof. Dr. Fuad Hassan guru besar psikologi universitas indonesia menyimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal dalam arti mulai dari radix suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan kesimpulanm yang universal.
6.         Harold H.Titus mengemukakan 4 pengertian filsafat. adalah :
1)      Satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta.
2)      Filsafat adalah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan Akliah.
3)      Filsafat adalah satu perangkat masalah.
4)      Fissafat ialah satu perangkat teori atau isi.

B.       FILSAFAT ILMU
Ilmu berasal dari kata ”alima (bahasa arab) yang berarti tahu, jadi ilmu maupun science secara etimologis berarti pengetahuan. Sedangkan Filsafat Ilmu Merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Filsafat Ilmu merupakan cabang ilmu filsafat  yang hendak mengkaji ilmu dari sisi filsafat untuk memberi jawaban terhadap sejumlah pertanyaan yang mencakup apa itu ilmu (ONTOLOGI), Bagaimana ilmu itu diperoleh (dijawab dengan epistemologi) dan untuk apa ilmu itu dilahirkan (aksiologi). Filsafat ilmu mempersoalkan dan mengkaji segala persoalanyang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, fisik, dan metafisik. Filsafat ilmu memfokuskan pembahasan dalam metodologi ilmu pengetahuan.
·         SIFAT-SIFAT ILMU 
1.    RASIONAL : proses pemikiran yang berlangsung dalam ilmu itu harus dan hanya tunduk pada hukum-hukum logika.
2.    EMPIRIS : kesimpulan yang didapatnya harus dapat ditundukkan pada verifikasi pancaindra manusia.
3.    SISTEMATIS : fakta yang relevan itu harus disusun dalam suatu kebulatan yang konsisten.
4.    UMUM harus dapat dipelajari oleh setiap orang, tidak bersifat esoterik

5.    AKUMULATIF : Kebenaran yang diperoleh selalu dapat dijadikan dasar untuk memperoleh kebenaran yang baru

30 December 2013

Ilmu Alamiah Dasar

PERANAN ILMU ALAMIAH DASAR

(IAD) DI DALAM  PLS
Dosen:
Hasan Subekti, S.Pd., M.Pd



Oleh:
v ROBIATUL ADAWIYAH                     (131034045)
v SHERLY CLAUDIA PARDOSI            (131034067)
v NIKMATUL IRADINI                            (131034068)
v DESI SAFITRI                                         (131034082)
v MOHAMMAD ZAINUL MIFTA           (131034083)

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2013


KATA PENGANTAR

     Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya dalam menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.
      Makalah disusun agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa hakikat ilmu alamiah dasar serta peranannya dalam pendidikan luar sekolah. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
       Makalah ini memuat tentang “Hakikat dan Peran Ilmu alamiah Dasar Dalam Pendidikan Luar Sekolah”. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, teman-teman, dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini, sehinggga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
        Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.Kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan sarannya guna perbaikan di kemudian hari. Terimakasih

                                       
                                                                                                 Surabaya,  November 2013
                  
                                                                                                        
                                                                                                            Penyusun







DAFTAR ISI
Kata pengantar ................................................................................................1
Daftar Isi .........................................................................................................2
Bab 1 Pendahuluan
            1.1 Latar Belakang ............................................................................. 3        
            1.2 Rumusan Masalah ........................................................................3
            1.3 Tujuan Penulisan ..........................................................................3
Bab II Pembahasan
            2.1 Hakikat Ilmu Alamiah Dasar......................................5
            2.2 Pengertian Pendidikan Luar Sekolah...........................................8
            2.3 Tujuan dan Fungsi Mata Kuliah Sains Dasar .............................11
2.4 Peranan Ilmu Alamiah Dasar Dalam Pendidikan PLS................12
Bab III Penutup
            3.1 Simpulan .....................................................................................16
            3.2 Saran ...........................................................................................16
Daftar Pustaka .............................................................................................. 17



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
          Dalam era globalisasi ini telah banyak bermunculan ilmu pengetahuan yang mutakhir dimana-mana, yang semua itu akan berdampak pada kehidupan kita didunia. Salah satu dari beberapa ilmu itu adalah ilmu alamiah dasar.
          Kita sebagai para calon pendidik pun masih banyak kelemahan dalam penguasaan ilmu, banyak belum mengenal ilmu-ilmu tersebut. Khususnya ilmu kealaman dasar yang penting.
          Hakiakat ilmu kealaman dasar itu pun mampu menjadi dasar bagi kita untuk melangkah dalam mempelajari mata kuliah ini. Serta peranannya yang besar bagi perkembangan kita untuk hidup dalam masyarakat. IAD Memberikan arah yang jelas.
           Ilmu pengetahuan tercipta karena adanya kebutuhan manusia untuk menguasai alam semesta dalam rangka mempertahankan hidupnya. Sesuai dengan perkembanangan kebutuhan manusia, ilmu pun selalu berkembang dengan cepat. Ilmu dapat memberikan dampak yang bermacam-macam terhadap kehidupan manusia.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tesebut, maka rumusan masalah yang dapat kami ambil adalah;
1. Apa hakikat dari ilmu alamiah dasar?
      2. Apa pengertian pendidikan luar sekolah?
      3. Apa tujuan dan fungsi mata kuliah Sains Dasar?
      4. Apa peranan ilmu alamiah dasar dalam pendidikan luar sekolah?

1.3  Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penulisan makalah ini tak lain adalah:
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan apa itu hakikat ilmu alamiah dasar.
2. Untuk mengetahui pengertian pendidikan luar sekolah
3.  Untuk mengetahui tujuan dan fungsi mata kuliah Sains Dasar
4. Untuk mengetahui dan memahami peranan ilmu alamiah dasar dalam pendidikan luar sekolah.























                                                    

BAB II
                                             PEMBAHASAN

2.1  Hakikat Ilmu Alamiah Dasar
             Pada hakikatnya ilmu alamiah dasar adalah bukan suatu ilmu yang berdiri    sendiri, melainkan merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Jadi ilmu alamiah dasar tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya ilmu-ilmu lainnya.
Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu alamiah dasar (IAD) hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.
            Sebenarnya kita sudah tidak asing lagi dengan disiplin ilmu ini, karena secara tidak sadar sudah kita temukan dimana saja, dan kapan saja, serta dalam bentuk apa saja. Dan tentunya semua ilmu memiliki tujuan, peran, manfaat dan fungsi. Begitu juga dengan ilmu alamiah dasar. Tujuan ilmu alamiah dasar adalah:
1. Memperkenalkan konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan alam.
2. Memberikan wawasan pengetahuan, pengertian, dan apresiasi terhadap objek dan cara pemikiran serta cara-cara pendekatan dalam IPA dan teknologi.
3. Memberikan bekal untuk memanfaatkan bahan dan cara pemikiran , cara-cara pendekatan dan hasil-hasil dalam IPA dan teknologi.
4. Mengembangkan interaksi yang selaras dan disiplin-disiplin ilmu eksakta maupun non-eksakta.

Sedangkan fungsi dari Pengajaran Ilmu alamiah dasar adalah:
1. Mengembangkan apresiasi IPA dan teknologi kepada mahasiswa Non-eksakta.
2. Mendorong dan mengembangkan kemanfaatan ilmu alamiah dasar pada pengembangan diri, ilmu dan profesi para mahasiswa non-eksakta.

1. Pengetian Ilmu Pengetahuan Alam
             H.W fowler mengatakan bahwa ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan yang didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi.
Metode ilmiah merupakan suatu cara yang logis untuk memecahkan masalah tertentu. Metode inilah yang menjadi dasar metode yang digunakan dalam IPA.

2. Lahirnya Ilmu Alamiah
            Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan dimana tanggapan itu menjadi suatu pengalaman. Pengalaman yang diperoleh terakumulasi oleh karena adanya kuriositas manusia. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman akan bertambah terus seiring berkembangnya manusia dan mewariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pertambahan pengetahuan didorong oleh pertama untuk memuaskan diri, yang bersifat non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami hakekat alam dan isinya kedua, dorongan praktis yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Dorongan pertama melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) sedang dorongan kedua menuju Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science)

3. Metode Ilmiah dan Implimentasinya
             Segala kebenaran dalam ilmu Alamiah terletak pada metode ilmiah. Sebagai langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat sebagai berikut :
1. Penginderaan, merupakan suatu aktivitas melihat, mendengar, merasakan, mengecap terhadap suatu objek tertentu.
2. Masalah dan problema, menemukan masalah dengan kata lain adalah dengan mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana.
3. Hipotesis, jawaban sementara terhadap pertanyaan yang kita ajukan.
4. Eksperimen, dari sini ilmu alamiah dan non ilmu alamiah dapat dipisahkan. Contoh dalam gejala alam tentang serangga dengan lampu (sinar biru)

             Teori, bukti eksperimen merupakan langkah ilmiah berikutnya yaitu teori. Dengan hasil eksperimen dari beberapa peneliti dan bukti-bukti yang menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan valid walaupun dengan keterbatasan tertentu. Maka disusun teori. Dengan teori-teori yang dikemukakan maka dapat diaplikasikan terhadap kebutuhan manusia seperti pengusiran serangga atau perangkap nyamuk (terkait dengan teori pencahayaan.

4. Ketebatasan Ilmu Alamiah
               Untuk itu perlu dilakukan pengujian sampai dimana berlakunya metode ilmiah dan dimana metode ilmiah tidak berlaku. Untuk itu kita perlu memperhatikan :
               Pertama, Bidang ilmu Alamiah, yang menentukan bidang ilmu alamiah adalah metode ilmiah, karena bidang ilmu alamiah adalah wahana di mana metode ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya bidang non ilmiah adalah wahana dimana metode ilmiah tidak dapat terapkan. Contoh hipotesa tentang keberadaan tuhan merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang Atheis.
               Kedua, tujuan ilmu Alamiah, membentuk dan menggunakan teori. Ilmu alamiah hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah "Teori". Karena tidak ada sesuatu yang mutlak tetapi terus mengalami perubahan (contoh teori tentang bumi ini bulat)
               Ketiga. Ilmu alamiah dan nilai, ilmu alamiah tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan . Manusia pemakain ilmu alamiahlah yang menilai apakah hasil Ilmu Alamiah baik atau sebaliknya. Contoh penemuan mesiu atau bom atom.

5. Filsafat Ilmu Alamiah
             Vitalisme, merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan diluar alam. Kekuatan itu melikiki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di Alam semesta ini. (misalnya Tuhan). pendapat ini ditantang oleh beberapa orang lain karena dalam ilmu alamiah dikatakan bahwa segala sesuatunya harus dapat dianalisis secaras eksperimen. Atau harus cocok dengan metode ilmiah.
              Mekanisme, penyebab segala gerakan di alam semesta ini dikarenakan hukum alam (misalnya fisika atau kimia). Faham ini menganggap bahwa gejala pada mahluk hidup secara otomatis terjadi hanya berdasar peristiwa fisika –kimia belaka. Pandangan ini menyamakan gejala pada mahluk hidup dengan gejala benda tidak hidup sehingga perbedaan hikiki tidak ada. Dengan begitu dapat menghayutkan manusia ke pandangan materialisme yang selanjutnya kepada Atheisme.
                Agnotisme, untuk menghindari pertentangan vitalisme dan mekanisme maka aliran ini timbul, dimana aliran ini melepaskan atau tidak memperhatikan sisi dari sang pencipta. Mereka yang mengkuti aliran ini, hanya mempelajari gejala-gejala alam saja, aliran ini banyak dianut oleh ilmuwan Barat.
Filsafat Pancasila, paham yang menjembatani dari 2 aliran yang menyatakan bahwa alam dan hukumnya terjadi karena ciptaan tuhan dan proses selanjutnya menurut filsafat mekanisme (hukum alam). Hukum alam adalah itu adalah sama dengan hukum Tuhan.Dapat dilihat dari kehidupan makhluk hidup dari awal sampai akhir.

2.2 Pengertian Pendidikan Luar Sekolah
                Pendidikan luar sekolah sebenarnya sudah ada sebelum pendidikan formal  lahir. Pendidikan luar sekolah (PLS) sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru dalam kehidupan manusia (Faure, 1981: 2). Pendidikan luar sekolah berjalan sesuai dengan peradaban manusia yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pelaksanaan, masyarakat melakukannya melalui upacara-upacara tradisional, keagamaan, kebudayaan, dan kegiatan belajar membelajarkan dalam bentuk magang oleh orang tua kepada anaknya atau orang yang sudah tahu kepada orang yang ingin tahu secara tradisional. Pendapat para pakar pendidikan luar sekolah mengenai definisi PLS cukup bervariasi. Philip H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan luar sekolah adalah semua kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal, yang menghasilkan tipe-tipe belajar yang dikehendaki oleh kelompok orang dewasa maupun anak-anak. Russel Kleis, dalam bukunya Non-formal Education mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh.    Axinn mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidik yang sengaja membelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar. Suzanna Kindervatter mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai berikut: pendidikan luar sekolah sebagai suatu metoda penerapan kebutuhan, minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup.
                Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan pendidikan luar sekolah sebagai "empowering process”. Empowering process adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada seseorang atau kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat. Program pembelajaran dalam empowering process dirancang untuk memberi kesempatan kepada para anak putus sekolah, dengan menganalisis keadaan kehidupan mereka guna, mengembangkan keterampilan yang dikehendaki agar dapat merubah keadaan kehidupan mereka.  
Adikusumo (1986: 57) dalam bukunya Pendidikan Kemasyarakatan mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya. Sudjana, mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut: "Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggara-kan luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa, dan negara. Definisi dan pengertian pendidikan luar sekolah yang dikemukakan para pakar tersebut di atas pada prinsipnya menuju pada suatu wawasan mengenai pendidikan luar sekolah yaitu setiap kesempatan dimana teradapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, guna membantu peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi diri dalam mengembangkan tingkat pengetahuan, penalaran, keterampilan sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Hasil yang diperoleh dari pendidikan luar sekolah diharapkan dapat bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
 Peran Pendidikan Luar Sekolah Masalah pendidikan dalam pendidikan sekolah, menyebabkan pendidikan luar sekolah mengambil peran untuk membantu sekolah dan masyarakat dalam mengurangi masalah tersebut. Sudjana (1989:107) mengemukakan peran pendidikan luar sekolah adalah sebagai “pelengkap, penambah, dan pengganti". Sebagai pelengkap pendidikan sekolah Pendidikan luar sekolah berfungsi untuk melengkapi kemampuan peserta didik dengan jalan memberikan pengalaman belajar yang tidak diperoleh dalam pendidikan sekolah. Isi pogram didasarkan atas kebutuhan peserta didik. program dilakukan oleh para penyelenggara pendidikan dan bekerja sama dengan masyarakat. Programnya bermacam-macam, seperti pendidikan keterampilan produktif, olah raga, kesenian, kelompok belajar, kelompok rekreasi dan kelompok pencinta alam. Pendidikan luar sekolah sebagai pelengkap ini dirasakan perlu oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat dan mendekatkan fungsi pendidikan sekolah dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu program-program PLS pada umumnya dikaitkan dengan lapangan kerja dan dunia usaha seperti latihan keterampilan kayu, tembok, las, pertanian, makanan, dan lain-lain. Sebagai penambah pendidikan sekolah Pendidikan luar sekolah sebagai penambah pendidikan sekolah bertujuan untuk menyediakan kesempatan belajar kepada:
1. Peserta didik yang ingin memperdalam materi pelajaran tertentu yang diperoleh selama mengikuti program pendidikan pada jenjang pendidikan sekolah. Kegiatan belajar tambahan ini dilakukan di luar jam pelajaran dengan menggunakan ruang kelas di sekolah yang bersangkutan atau ditempat lain. Materi pelajaran disesuaikan dengan kebutuhan para siswa. Para pendidik pada umumnya adalah guru-guru mata pelajaran yang bersangkutan sangkutan atau sumber belajar lain yang ada di masyarakat.
2. Alumni suatu jenjang pendidikan sekolah dan masih memerlukan layanan pendidikan untuk memperluas materi pelajaran yang telah diperoleh. Kebutuhan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu : 1) Memperluas materi pelajaran yang telah diperoleh untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Kebutuhan ini biasanya dilakukan melalui bimbingan studi, bimbingan tes, kursus-kursus dan kelompok belajar; 2) Menambah pengetahuan tentang materi belajar yang dirasakan penting sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat. Kebutuhan ini dilakukan melalui kursus-kursus, diskusi, seminar lokakarya, penelitian dan studi kepustakaan.
3. Mereka yang putus sekolah dan memerlukan pengetahuan serta keterampilan yang berkaitan dengan lapangan pekerjaan atau penampilan diri dalam masyarakat. Upaya ini dikaitkan dengan keterampilan kerja dan berusaha.

Pendidikan luar sekolah sebagai penambah ini diarahkan untuk membekali para lulusan dan mereka yang putus sekolah untuk memasuki dunia kerja. Sebagai pengganti pendidikan sekolah Pendidikan luar sekolah sebagai pengganti pendidikan sekolah meyediakan kesempatan belajar bagi anak-anak atau orang dewasa yang karena berbagai alasan tidak memperoleh kesempatan untuk memasuki satuan pendidikan sekolah, umumnya sekolah dasar. Program pendidikan ini sering diselenggarakan di daerah-daerah terpencil atau daerah yang disebut kantong terasing yang belum memiliki sekolah dasar. Kegiatan belajar mengajar bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung dan pengetahuan praktis dan sederhana yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti pemeliharaan kesehatan lingkungan dan pemukiman, gizi keluarga, cara bercocok tanam, dan jenis-jenis keterampilan lainnya. Kegiatan ini sanya dikelola oleh lembaga-lembaga pemerintah dan badan-badan sosial yang mempunyai tugas pelayanan pada masyarakat.

2.3 Tujuan Dan Fungsi Mata Kuliah Sains Dasar
            Tujuan mempelajari Sains Dasar ini adalah untuk mengetahui semua perilaku alam semesta yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Secara garis besar rumusan tujuan tersebut adapat terperinci sebagai berikut:
  1. Menambah wawasan tentang Sains Dasar ,terutama mengembangkan sikap ilmiah seperti : jujur,terbuka, optimis,tidak mudah putus asa, peka terhadap kelestarian lingkungan, dan memupuk keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Meningkatkan wawasan tentang alam dan lingkungan yang memberika kekuatan bagi sumber-sumber kemakmuran masyarakat
  3. Meningkatkan kecintaan akan sumber-sumber alam dan lingkungan
  4. Menempatkan nilai-nilai sumber daya alam dan lingkungannya sebagai pendorong semangat ilmiah dalam kaitan dengan perkembangan IPTEK
  5. Mengembangkan kemampuan pribadi untuk berkehidupan bermasyarakat terutama dalam bidang kekaryaan dan profesi
  6.  Mampu berfikir secara rasional, sistematis, dan bersikap professional dalam menyelesaikan masalah kehidupan
  7. Berjiwa besar dan mampu menerima pendapat orang lain secara logis dan ilmiah
  8. Memupuk rasa tanggung jawab terhadap sumber daya alam dab lingkungan
  9. Mengembangkan interaksi yang selaras antara disiplin ilmu eksak dan non eksak.

2.4 Peranan ilmu alamiah dasar dalam pendidikan luar sekolah

             Tentunya semua disiplin ilmu itu memiliki peran dalam kehidupan manusia. Yang mana perannya ini dapat bersifat baik dan dapat bersifat buruk. Sedangkan peran Ilmu Alamiah Dasar dalam kehidupan  manusia terutama bagi pendidikan luar sekolah sampaisaat ini antara lain:
1. Bidang pangan dan perbaikan gizi
Dalam bidang pangan dan gizi, peran sains cukup besar baik dari segi peningkatan penyediaan pangan, penganekaragaman pola konsumsi masyarakat, maupun dalam peningkatan status gizi masyarakat serta mengurangi berbagai jenis penyakit akibat kekurangan gizi.

2. Suatu ilmu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Dengan adanya perkembangan ilmu alamiah dasar dan teknologi dapat mendatangkan kemakmuran materi. Dengan ilmu IPA dapat timbul cabang-cabang ilmu lain yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

3. Suatu ilmu yang dapat menaikkan kualitas mutu produksi.
Dengan teknologi material yang bersumber dari ilmu dasar ini yaitu oleh konsep-konsep IPA para ahli makin menguasai sifat maupun pemanfaatan suatu senyawa, denagn mengubah atau mereaksikan nya dengan senyawa lain sehingga mendapatkan senyawa baru dengan kualitas tinggi yang sesuai dengan harapan.

4. Meningkatkan pengetahuan tentang ilmu yang berkaitan dengan alam.
Tentu saja bila kita mengenal ilmu alamiah dasar kita akan menemukan ilmu-ilmu lainnya, karena ilmu alamidah dasar (IAD) ini bukanlah ilmu yang berdiri sendiri.
5. Meningkatkan system transportasi dan komunikasi.
Perkembangan ilmu semakin pesat, menimbulkan tekanan dalam pikiran para ilmuan untuk terus berkarya dalam hal-hal yang baru termasuk dalam transportasi dan komunikasi. Yang dulunya kita berkomunikasi sangatlah sulih, nah sekarang anya dalam hitungan detik kita dapat berkomunikasi dengan orang lain yang jauh lokasinya. Begitu juga dengan transportasi, dulu kita bila ingin menjangakau tempat yang jauh kita membutuhkan berhari-hari, namun kini dengan adanya iptek ini hal yang lama menjadi cepat.

6. Memberikan kontribusi tentang ilmu kesehatan.
Sebagaimana kita ketahui ilmu kedokteran itu sarana dan prasarananya adalah ilmu dasar ( fisika, kimia, biologi) serta alat-alat elektronik dan non elektroik.

7. Dapat meninakatkan kualitas SDM.
Dengan adanya IAD kita dapat meningakatkan SDM.

8. Dapat membuka lapangan pekerjaan baru.
Dengan adanya IAD maka Semakin banyak perusahaan maupun sekolah, maka peluang dalam lapangan pekerjaan itu menjadi lebih besar.

9. Dapat meningakatkan keborosan dan menimbulakan pencemaran lingkungan.
Pendayagunaan teknologi SDA pun dapat mengakibatkan dampak negative bila kita salah dalam penggunaannya.

10.Bidang teknologi informasi dan komunikasi
    Perkembangan masyarakat informasi merupakan proses kesinambungan revolusi    industri. Selama ini berkat kemajuan di bidang telematika (telekomunikasi dan infornasi), maka arus informasi akan mengalir secara deras dan sangat mudah diperoleh. Di lain pihak perkembangan kehidupan masyarakt juga menuntut

ketersediaan informasi yang tinggi. Kedua hal tersebut saling terkait mendorong terciptanya globalisasi informasi. Semua ini akan terlaksana dengan baik bila penguasaan sains sebagai sumber teknologi dkuasai dengan baik. Disini peran PLS sebagai memberikan  informasi dan kursus-kursus kilat terutama pada masyarakat perkotaan karena lebih cepat terkena perkembangan ilmu dan teknologi.

11.     Bidang Bioteknologi
Kehidupan manusia modern yang bercirikan kemajuan dan penguasaan IPTEK meletakkan bioteknologi sebagai teknologi terkemuka dan menjadikannya sebagai teknologi harapan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi kesejahteraan umat manusi.
Dalam hal ini penerapan bioteknologi yang menguntungkan suatu Negara dan masyarakat adalah bioteknologi yang dapat digunakan secara langsung untuk mengatasi berbagai hal antara lain :
a.    Upaya peningkatan gizi
b.    Pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit
c.    Pemeliharaan lingkungan agar aman bagi kehidupan
d.   Upaya pengembangan efiseiensi produksi pangan, hewani seperti susu,keju dan daging.
e.    Industri hutan
f.     Industri obat-obatan
g.    Vaksinasin
h.    Energi
Untuk dapat berkembangnya bioteknologi secara baik diperlukan kemampuan penguasaan dalam bidang biologi, mikrobiologi, biokimia, genetika, fisika,kimia, dan rekayasa yang secara bersamaan mampu menguak tabir misteri kehidupan dan organisasi dari makhluk hidup.





















                                                                     BAB III
                                                                  PENUTUP

3.1  Simpulan
            Pada hakikatnya ilmu alamiah dasar adalah bukan suatu ilmu yang berdiri sendiri,  melainkan merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sehingga dapat memberikan wawasan.
Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip.

3.2  Saran
             Ilmu pengetahuan tidak selamanya membuat manusia menjadi lebih beradap dan mencapai kesempurnaan hidup, tapi pengetahuan ini juga dapat menjadikan bencana bagi diri kita.
Jadi kita harus faham betul ilmu pengetahuan apa yang sedang kita pelajari. Sebagai calon  pendidik  kita seharusnya mampu menganalisis mana yang baik dan mana yang buruk.












                                                          DAFTAR PUSTAKA


 Drs. Nasrudin Harun, MS, dkk: Sains Dasar,Surabaya :  Unesa University Press, 2007